Tuntut Ilmu Hingga Ke Paman Sam

identitasunhas.com, Makassar – Siang yang tidak begitu terik menemani reporter identitas wawancara dengan sosok jeklang kali ini. Dialah Muhammad Taufik Saputra, mahasiswa Fakultas Pertanian yang berhasil lulus seleksi pertukaran mahasiswa ke Amerika.

Sejak mahasiswa baru sebenarnya ia telah memiliki cita-cita untuk keluar negeri. Ia terinspirasi oleh salah seorang seniornya yang lulus seleksi KKN Jepang Suiji, Imam Hidayat. Kala itu seniornya menceritakan pengalaman dan ilmu yang ia dapatkan ketika berada di Jepang, dari situlah ia bertekad mengikuti jejak seniornya.

Mengetahui bahwa salah satu syarat untuk lulus KKN Jepang adalah menguasai bahasa Inggris, Mahasiswa angkatan 2012 ini pun kemudian mengikuti bimbingan belajar bahasa Inggris. Kemudian pada suatu ketika, ia mendapat informasi bahwa sedang ada program Summer School Jepang. Opi sapaan akrabnya, pun mencoba mendaftar. Namun ternyata keberuntungan belum berpihak kepadanya, alumni Sekolah Islam Athirah Bukit Baruga ini tak lulus seleksi.

Hal tersebut tak melunturkan semangatnya, ketika pendaftaran untuk KKN Jepang dibuka, ia lantas mencobanya dan berhasil. Sepulang dari Jepang, lelaki yang sewaktu kecil bercita-cita jadi artis ini masih berkeinginan untuk bisa berkesempatan keluar negeri lagi. Menjelajah tempat baru dan belajar budaya serta hal-hal baru di negeri lain adalah yang paling diharapkannya.

Hasil tidak akan menghianati proses. Ungkapan tersebut kiranya tepat untuk menggambarkan perjuangannya. Beberapa kali ia harus menuai kekecewaan lantas tak jua berhasil melulusi program pertukaran yang diimpikannya. Asean Model Forum Malaysia,  Entrepreneurship Summit di Luxenburgh dan Pertukaran Pelajar di negara Timur Tengah.

“Ketika tidak lulus tetap harus selalu ada motivasi dan justru harus lebih giat untuk  cari kesempatan,” ucapnya menggebu, Senin (28/12/2016).

Suatu hari ia mendapatkan informasi mengenai program Young Southeast Asian Leader Initiative (YSEALI), sebuah program yang diusung oleh Presiden Barack Obama. Program ini memberikan kesempatan kepada pemuda ASEAN untuk kuliah secara intensif di Amerika. Syarat dari program ini berupa kemampuan bahasa Inggris dan memiliki proyek sosial.

Mahasiswa Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian ini pun memantapkan diri untuk mendaftar karena memang ia telah memiliki kemampuan berbahasa Inggris sejak dulu. Lantas, ia memilih kategori enterpreneurship sebab pada awal tahun 2015, ia juga lolos seleksi dalam Program Wirausaha Mahasiswa (PMW) dengan usaha Pondok Jamur Tiram bersama temannya. Usahanya tersebutlah yang ia jadikan sebagai proyek sosial.

Pria yang juga aktif  dalam himpunan Mahasiswa Peminat Sosial Ekonomi Pertanian (Misekta) ini pun mulai mengurus semua berkas yang dibutuhkan seperti surat rekomendasi dari dekan, proyek sosialnya dan berkas lainnya. Akhirnya ia berhasil lulus ketahap wawancara. Namun, ia mendapatkan masalah dikarenakan wawancara yang harus melalui Skype tersebut tak berjalan lancar. Jaringan saat itu sedang tidak baik, hingga , ia harus menghubungi tim pewawancara sampai tiga kali untuk melanjutkan proses wawancara.

“Sebenarnya setelah wawancara, harapan saya untuk lulus sudah pupus karena melihat empat kandidat lainnya yang lebih baik,” ujarnya, Senin (28/12/2016).

Namun, keberuntungan rupanya berpihak pada putra pasangan H Eddy Tungabdi SH dan Hj Rosdiar Iskandar. Sebulan kemudian setelah tahap wawancara ia dinyatakan lulus. Dari empat yang lulus tahap wawancara, hanya dua yang berkesempatan untuk mengikuti program ini. Termasuk dirinya yang mewakili Unhas dan satu lagi pemuda yang berasal dari Surabaya.  Disana nantinya ia akan mempelajari enterpreneurship lebih mendalam.

Dijadwalkan ia akan berangkat ke Amerika tanggal 20 Februari mendatang hingga 26 Maret. Hal ini bertepatan dengan rentetan KKN nya yang masih akan berlangsung di Pulau Barang Lompo, Februari nanti. Alhasil ia dihadapkan pada dua pilihan. “Harus ada yang dikorbankan,” katanya, Senin (28/12/2016).

Akhirnya keinginannya untuk ke luar negeri membuatnya mengambil keputusan untuk memilih ke Amerika. Sayangnya kedua orangtua sempat tidak memberi dukungan atas niatnya ini. Alasannya, mereka tidak menginginkan anak tunggalnya untuk pergi jauh lantaran khawatir dengan kuliah yang mungkin bisa terhambat. Namun, karena keteguhan hatinya, pria yang sementara menyusun proposal skripsi ini mampu meyakinkan orangtuanya.

Kedepannya pria bersuara merdu ini akan menuntut ilmu dan akan banyak belajar di negeri Paman Sam. “Saya bisa banyak belajar disana dan harus ada saya bisa bawa pulang, baik untuk pribadi, keluarga, negara saya sendiri dan semua yang baik diserap,” harapnya, Senin (28/12/2016).

 Asmaul Husna Yasin

 

 

 

Rate this article!